Rabu, 28 September 2011
FLORES,WHEN HEAVEN TOUCHES NATURE
Pulau Flores memiliki panorama alam yang unik dan keberagaman budaya . Nama Flores berasal
dari bahasa Portugis , Cabo de Flores , yang berarti Tanjung Bunga . Tidak diketahui kenapa orang
Portugis yang berlabuh pertama kali di ujung timur pulau itu pada 1600-an memberi Nama demikian.
Pulau dengan kontur alam bergunung-gunung dan berbukit-bukit ini disebut pula dengan nama Nusa Nipa atau Pulau Ular karena bentuknya yang mirip ular.
Flores merupakan salah satu dari tiga pulau besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua pulau lainnya adalah Pulau Timor dan Pulau Sumba. Secara administratif, Flores terbagi dalam 8 kabupaten, yaitu Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur. Sedikit di sebelah timur pulau ini ada Pulau Alor dan Lembata yang merupakan kabupaten tersendiri, tapi secara kultural masuk rumpun Flores.
Ada dua gerbang utama masuk ke Flores, yakni Labuan Bajo dan Maumere. Labuan Bajo merupakan kota pelabuhan dan kota wisata di ujung barat yang juga merupakan ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kota ini juga menjadi gerbang menuju kawasan Taman Nasional Komodo, tempat dimana binatang purba Komodo berada. Adapun Maumere merupakan kota terbesar yang terletak di belahan timur pulau ini. Kota-kota lain
seperti Ruteng,Ende dan larantuka,juga menjadi pintu masuk alternatif.akses menuju flores sangat mudah
Bisa ditempuh melalui jalur udara, darat dan laut. Yang lebih mudah adalah dari Denpasar. Penerbangan langsung dari Denpasar ada setiap hari ke Maumere, Labuan Bajo, Ruteng dan Ende. Jalur laut bisa dilalui dengan meggunakan kapal Pelni, kapal cepat atau kapal pesiar dari Bali. Mereka yang senang bertualang bisa memilih jalur darat dengan moda transportasi bis antar provinsi atau mobil pribadi, langsung dari Jakarta. Jalur darat ini akan melintasi Pulau Bali, lalu menyeberang ke Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB), dan berakhir dengan penyeberangan ke Labuan Bajo. Tidak begitu melelahkan karena sebagian rute perjalanan menggunakan kapal penyeberangan. Juga tidak membosankan karena jalur ini merupakan lintasan destinasi wisata nasional dari Bali, Nusa Tenggara Barat hingga ke Flores. Artinya, para pengunjung dapat menikmati Bali, Lombok, dan Flores dalam satu rangkaian perjalanan yang menakjubkan. Selanjutnya menjelajahi Flores lewat jalur darat dari arah barat akan dimulai dari Labuan Bajo dan berakhir di Larantuka, ibukota kabupaten Flores Timur, kota di ujung timur. Panjang perjalanan kurang lebih 450 kilometer. Bisa juga memulai perjalanan dari timur di Maumere lalu ke barat. Berikut adalah sejumlah lokasi wisata menarik yang perlu dikunjungi di Flores. Tempat-tempat wisata ini diurut dari barat ke timur, jika perjalanan Anda dimulai dari Labuan Bajo.
TAMAN NASIONAL KOMODO
Ini merupakan kawasan di mana kadal raksasa purba Varanus Komodoensis atau yang dikenal dengan Komodo berada. Taman Nasional Komodo (TNK) masuk dalam wilayah Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores. Binatang mamalia yang disebut Ora oleh masyarakat setempat, hidup dan berkembang
Biak diPulau Komodo,Rinca dan Gilimotang tak cuma kadal Raksasa yang menjadi daya tarik TNK,terdapat 260 jenis terumbu karang yang disebut sebut sebagai terumbu karang terindah didunia karena bentuk dan warnanya beranekaragam. Perairan TNK juga merupakan jalur lintasan sekitar 10 jenis paus, 6 jenis lumba-lumba dan ikan duyung dugong, serta 1.000 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi. Perairan di sekitar Pulau Komodo juga menjadi tempat yang menarik untuk snorkeling dan diving. Dalam kawasan TN Komodo, khususnya di Pulau Komodo, tercatat sekitar 360 kepala keluarga hidup, yang hampir semuanya orang asli Komodo. Penduduk lokal ini menganggap kadal raksasa tadi sebagai leluhur mereka. Konon satwa purba tersebut merupakan anak dari hasil perkawinan antara leluhur mereka bernama Majo dan seorang putri naga ajaib. Dari perkawinan itu, putri naga melahirkan anak kembar, yakni seorang pria berwujud manusia yang dinamai “Gerong” dan seorang putri berwujud naga yang dinamai “Ora”. Itu sebabnya orang Komodo menamai binatang langka dunia itu dengan sebutan “Ora”. Buat yang suka trekking, ada rute trekking jarak pendek 2 km, jarak menengah 4-5 km, dan jarak panjang 8-10 km, baik di Pulau Komodo maupun Pulau Rinca. Trekking disini mengasyikkan, karena selain menyusuri hutan kering, kita juga bisa berjumpa beberapa komodo. Dari puncak tertinggi di kedua pulau itu, kita bisa melihat garis pantai dan laut yang biru di kejauhan. Setelah puas berkelana di Komodo, kita kembali ke Labuan Bajo untuk beristirahat. Dari Labuan Bajo, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, yang berjarak tempuh tiga jam dengan kendaraan roda empat. Di dekat kota berhawa dingin ini terdapat situs sejarah bernama Liang Bua. Beberapa tahun lalu, di dalam gua seluas setengah hektar ini, ditemukan kerangka Homo Floresiensis atau Manusia Flores, spesies manusia prasejarah berukuran kecil, de-ngan ukuran tinggi satu meter dan memiliki tengkorak seukuran jeruk.
TAMAN LAUT RIUNG
Tempat wisata berikutnya adalah Taman Laut Riung di Kabupaten Ngada. Lama perjalanan dari Ruteng ke Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, sekitar lima jam menggunakan mobil. Taman Laut Riung berada di pesisir utara. Kawasan ini merupakan gugusan pulau-pulau besar dan kecil, dengan jumlah 17 pulau, yang terkenal dengan pasir putih dan air lautnya yang jernih. Berbagai aktivitas dapat dilakukan di sini seperti berperahu menikmati keindahan pulau-pulau kecil, mengamati kawanan kalong di Pulau Ontoloe, atau bersnorkeling menikmati keindahan terumbu karang.Di Ngada, terdapat banyak kampung tradisional. Di antaranya yang terkenal adalah Kampung Bena. Kampung ini terletak di kaki Gunung Ineria, tidak jauh dari Bajawa. Perkampungan adat ini terkenal karena keberadaan sejumlah bangunan megalitik dari zaman batu dan tata kehidupan masyarakatnya yang masih mempertahankan keaslian budaya nenek moyang. Selain itu barang kerajinan tenun ikat menarik dan unik juga dapat diperoleh di Bena.
DANAU KELIMUTU
Dari Bajawa, perjalanan wisata berlanjut ke Ende. Kota tua yang terletak di bagian tengah Flores ini terkenal dengan danau tiga warna Kelimutu. Mereka yang ingin langsung ke Kelimutu, tanpa harus melalui Labuan Bajo, bisa mengambil penerbangan langsung dari Denpasar menuju Ende atau Maumere. Tempat wisata ini berada di Moni, kurang lebih dua jam perjalanan dengan mobil dari Ende atau tiga jam dari Maumere. Danau Kelimutu merupakan tiga danau yang terletak di tiga kawah gunung Kelimutu. Kelimutu merupakan gabungan dari kata Keli yang berarti gunung dan Mutu yang berarti mendidih. Danau ini dianggap ajaib dan mistis karena warna air ketiga danau tersebut berubah-ubah, seiring dengan perjalanan waktu.
Sebelumnya warna danau ini adalah merah, hijau dan biru. Pada pertengahan 2006 lalu terjadi beberapa kali perubahan terutama pada dua danau yang letaknya bersebelahan yakni Danau Arwah Muda-mudi (tiwu nua muri ko`o fai) dan Danau Arwah Tukang Tenung (tiwu ata polo). Danau Arwah Muda-mudi yang sebelumnya berwarna hijau, sempat berubah menjadi biru. Sementara Danau Tukang Tenung atau Orang Jahat yang sebelumnya berwarna cokelat tua berubah warna agak keme-rah-merahan. Satu danau yang letaknya terpisah disebut Danau Arwah Orangtua (tiwu ata mbupu) tetap berwarna hijau tua/lumut. Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan.
SEMANA SANTA
Selain wisata alam dan adat istiadat, salah satu wisata andalan Flores adalah wisata religi. Di Larantuka, ibukota Flores Timur, ada sebuah acara religi yang bernama Samana Santa. Semana Santa merupakan perayaan religi saat Paskah yang berpuncak pada prosesi Jumat Agung. Ini merupakan tradisi unik peninggalan Portugis, yang masih tetap hidup di Larantuka. Setiap tahun, menjelang dan pada saat perayaan Paskah, kota yang terletak di bibir pantai ujung timur Pulau Flores ini dibanjiri ribuan peziarah dari berbagai kota di pelosok Tanah Air, bahkan dari luar negeri
Di kota Larantuka ini banyak ditemukan simbol-simbol Katolik seperti patung Yesus, patung Bunda Maria, gereja maupun kapela. Larantuka didatangi bangsa Portugis pada abad 16. Di Lohayong, hingga kini masih terdapat sebuah benteng peninggalan Portugis. Tidak jauh dari Larantuka, tepatnya di Lamalera, Pulau Lembata, kita bisa menyaksikan tradisi penangkapan ikan paus oleh para nelayan setempat. Atraksi yang menarik minat wisatawan mancanegara ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Sekelompok nelayan melakukan penangkapan ikan raksasa itu dengan metode yang masih sangat tradisional.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









inilah keragaman budaya indonesia dan kekayaan alam nya ,INDONESIA I LOVE YOU FULL .
BalasHapusthank you sering sering yah
BalasHapus