Rabu, 28 September 2011

AMSTERDAM-STAD ZONDER AUTO

Dibanding ibukota negara lainnya di Eropa, Amsterdam tergolong kecil dalam ukuran luas wilayah. Kita bisa menjangkau semua sudut kota ini dengan mudah. Dengan jumlah penduduk yang hanya 750 ribuan, Amsterdam juga tak masuk kategori metropolis. Secara fisik, nyaris tak dijumpai rimba beton gedung-gedung pencakar langit seperti di kota-kota besar pada umumnya. Tak ada pula tempat wisata monumental yang megah seperti Colosseum-nya Roma atau menara Eiffel-nya Paris di kota ini. Tapi itu bukan berarti Amsterdam tak menarik untuk dikunjungi. Amsterdam menawarkan suasana eksotik dengan model bangunan klasik abad pertengahan. Tata kotanya cukup teratur dengan memusat ke tengah dan diapit oleh sungai-sungai. Kotanya terasa sangat sejuk dan asri karena cukup banyak pohon dan taman. Puluhan kanal yang membelah kota ini membuat setiap sudut jalan terlihat indah. Bentuk jalan dan kanal rata-rata mirip, yang membuat orang sering “nyasar” jika tak dibekali peta. Menurut survei terbaru majalah Forbes, Kota Amsterdam termasuk salah satu dari 10 kota hunian ternyaman di Eropa. Di kota ini terdapat sungai transportasi atau kanal-kanal terindah di seluruh Eropa, juga taman, sekolah internasional, dan museum terbaik. Dam Square adalah salah satu tempat yang menarik dikunjungi. Kabarnya pedestrian Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua Jakarta merupakan replika Dam Square. Ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang, duduk-duduk sambil melihat kawanan burung merpati. Di sini juga terdapat museum Madame Tussauds. Dari sana kita bisa menelusuri tempat-tempat menarik lainnya seperti museum nasional, istana ratu, pasar bunga di Bloemenmark, dan pasar buah di Prinsengracht. Obyek wisata yang paling diminati para turis adalah Old Center (Kota tua). Di sini terdapat sebuah kawasan yang boleh dibilang sebagai ikonnya Amsterdam, bernama Red Light District. Ini sebuah kawasan prostitusi legal. Jika di banyak negara prostitusi diharamkan, di Belanda, khususnya di Amsterdam, bisnis esek-esek ini dilegalkan. Bisnis ini memberikan masukan yang sangat besar bagi negara karena para pekerja seks harus membayar pajak. Red Light District sudah terkenal di dunia sejak abad ke-14. Di lokasi ini banyak terdapat teater, toko-toko, museum seks, coffee shop, restaurant dan bar. Tapi, Kincir Angin yang merupakan ikon Belanda tak dijumpai di Amsterdam. Itu adanya di kota Eindhoven. Amsterdam bukanlah tempat yang tepat untuk alat ini karena embusan anginnya kurang begitu kuat untuk menggerakkan kincir. Walau begitu, kita bisa melihatnya di Molen Van Sloten, sebuah tempat di luar kota Amsterdam. Tapi, kincir angin yang ada di sini lebih berfungsi sebagai aksesoris.
SEPEDA DIMANA-MANA Berkeliling Kota Amsterdam tidaklah sulit. Sebagaimana kota-kota besar lainnya di dunia, Amsterdam memiliki sarana transportasi massal yang baik. Semua moda transportasi umum, seperti trem, bus, hingga kereta api bermuara dan terkoneksi di Central Station. Untuk pergi ke berbagai tujuan, kita bisa memilih naik trem atau bis. Rute trem dan bis menjangkau semua sudut kota. Jumlahnya juga banyak sehingga penumpang tidak perlu menunggu lama. Naik trem cukup nyaman karena murah, bersih, dan tidak bising. Tiket trem bisa dibeli di banyak toko. Di setiap halte perhentian trem maupun bis selalu tersedia petunjuk rute yang cukup jelas, sehingga orang asing sekali pun dapat dengan mudah mengetahui nomor kendaraan yang akan mereka tumpangi berikut stasiun-stasiun perhentian yang akan dilewati. Menariknya, moda transportasi umum yang terbilang sudah modern itu ternyata bukanlah alat transportasi utama bagi warga Amsterdam. Mereka memilih sepeda sebagai transportasi utama dalam berkegiatan setiap hari, seperti ke tempat kerja, ke sekolah, berbelanja dan sebagainya. Sekitar tiga perempat dari warga kota ini menggunakan sepeda sebagai kendaraan sehari-harinya. Ke mana arah mata memandang, di sana terlihat orang mengayuh sepeda. Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Dari pelajar, buruh, pegawai swasta dan pemerintah hingga anggota masyarakat lainnya, hampir semua menggunakan sepeda. Sepeda yang digunakan berbagai macam ragam merk. Dari model klasik hingga balap. Tetapi, sebagian besar sepeda yang mereka gunakan adalah onthel, model dames (perempuan) dan laki-laki (batangan), yang tak punya gigi seperti yang banyak digunakan para pengojek sepeda di Jakarta. Ada perbedaan yang menyolok antara pesepeda di Indonesia dengan di Belanda khususnya Amsterdam. Di Negeri Kincir Angin, orang bersepeda mengenakan pakaian formil, jas plus dasi bagi yang laki-laki, dan yang wanita mengenakan gaun, merupakan hal yang biasa. Di Indonesia, mereka yang bersepeda ke tempat kerja umumnya mengenakan pakaian sport.
Rupanya bersepeda sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Amsterdam. Banyak orang tidak mau membeli kendaraan bermotor, selain alasan harga bensin yang sangat mahal, juga karena kurang praktis. Bagi mereka, bersepeda lebih luwes dalam mendukung aktivitas harian mereka. NYAMAN Jangan ditanya soal kenyamanan bersepeda di sana. Para pengendara sepeda tidak perlu takut kena macet atau diserempet mobil. Kehadiran puluhan ribu sepeda di jalanan juga tidak membuat carut marut lalulintas. Sebab sudah ada jalur-jalur khusus untuk sepeda, pejalan kaki dan kendaraan bermotor, lengkap dengan rambu-rambu lalu lintas.
Masing-masing jalur ditandai dengan warna berbeda. Merah adalah warna jalan kusus sepeda. Putih atau abu-abu untuk pejalan kaki dan hitam untuk kendaraan bermotor. Sesempit apapun ukuran jalan pasti akan di bagi sedemikian rupa menjadi tiga warna ini. Tercatat panjang jalur sepeda di Amsterdam adalah 400 kilometer. Rata-rata lebar jalur sepeda adalah 1,5 meter. Berada di sebelah trotoar untuk pejalan kaki. Sedangkan untuk mobil, kebanyakan hanya disediakan satu lajur mobil untuk masing-masing arah. Jalur mobil juga digunakan untuk moda transportasi lainnya, seperti trem dan bus.
Fasilitas parkir sepeda disediakan di tempat-tempat umum seperti stasiun kereta, sepanjang tepi kanal-kanal, dan pusat perbelanjaan. Tempat parkirannya sangat luas. Di setiap stasiun kereta api, misalnya, terdapat lahan parkir yang bisa menampung hingga 10 ribuan sepeda. Para penumpang kereta pun diperbolehkan membawa sepeda mereka ke dalam gerbong kereta. Namun, problem utama yang hingga kini selalu terjadi adalah pencurian sepeda. Hampir 80 ribu sepeda dilaporkan hilang karena digondol maling tiap tahunnya. Rata-rata sepeda curian itu dijual ke negara tetangga seperti Belgia. Karena rawan kecurian itulah sepeda-sepeda di Amsterdam selalu dilengkapi dua macam kunci pengaman, yakni kunci roda dan rantai, agar bisa diikatkan ke pagar atau tiang saat parkir. Pengamanan itu tak hanya untuk sepeda mewah dan mahal, tetapi juga sepeda tua yang sudah peyot. Walau sepeda dinomorsatukan di jalanan, namun itu tak berarti tak ada aturan buat mereka. Selain harus berjalan di jalur khusus, ada pula zona larangan bersepeda atau parkir sepeda. Mereka yang melanggar akan dikenai sanksi. Sepeda yang parkir di sembarang tempat dipastikan akan diangkut oleh petugas Pusat Urusan Sepeda Amsterdam atau AFAC (Amsterdam Fiets Afhandel Centrale). Sepeda-sepeda itu lantas dikandangkan di suatu tempat sampai pemilik sepeda mengurus administrasi pembebasan sepedanya.
Administrasi persepedaan di kantor AFAC ini sangat rapih. Semua sepeda yang ‘“digaruk” terdata lengkap di komputer. Sepeda-sepeda itu disimpan di sebuah tempat penampungan yang begitu besar. Ada ribuan sepeda hasil tangkapan di sana. Untuk mendapatkan kembali sepeda itu, sang pemilik harus membayar uang denda. Jika tak diambil selama tiga bulan, maka sepeda-sepeda tadi akan dijual murah ke lembaga-lembaga sosial atau disumbangkan ke negara-negara dunia ketiga. Kenyamanan dan kelengkapan fasilitas bersepeda itulah yang mungkin membuat Amsterdam berada di urutan teratas daftar 10 kota dengan predikat sebagai kota yang menyediakan fasilitas bersepeda terbaik di dunia berdasarkan penelitian yang dilakukan Virgin-Vacations belum lama ini. Sembilan kota berikutnya adalah Portland (Oregon, AS), Copenhagen (Denmark), Boulder (Colorado, AS), Davis (California, AS), Sandnes (Norwegia), Trondheim (Norwegia), San Francisco (California, AS), Berlin (Jerman), (Barcelona, Spanyol). RND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar