Kamis, 24 November 2011

KONDOM SATU SATUNYA ALAT PENCEGAH INFEKSI HIV LEWAT TRANSMISI SEXUAL


Kondom adalah satu-satunya metode kontrasepsi yang telah terbukti dapat mengurangi resiko penularan Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV. Namun, salah persepsi yang seringkali muncul adalah bahwa kondom lateks memiliki pori-pori yang dapat dilalui oleh HIV.

Penelitian laboratorium seperti dilansir The Latex Condom, Recent Advances, Futures Directions Family Health International 1998, membuktikan kondom lateks sangat efektif dalam pencegahan penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV karena lubang pori-pori pada kondom lateks terlalu kecil untuk dapat dilalui oleh virus ini. Kondom lateks terbukti efektif untuk mencegah virus dan kuman penyebab herpes simplex, cytomegalovirus (CMV), hepatitis B, chla mydia, gonorrhea serta HIV.

“Kondom aman. Kebocoran kondom sejauh ini lebih dikarenakan kadaluarsa, penyimpanan kurang baik seperti terkena panas baik oleh matahari maupun karena di kantong dalam dompet, pada saat mengeluarkan dari kemasan, serta saat memasang, mengeluarkan atau mencopot. Jadi, lebih karena human error (kesalahan yang disebabkan oleh manusia),” ujar Koordinator Pelayanan Medis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta, dr. Bondan Widjajanto saat menjadi nara sumber dalam kunjungan media ke PT. Mitra Rajawali Banjaran, Bandung, 1 November 2011 lalu.

Sekretaris KPA Provinsi DKI Jakarta, Dra. Hj. Rohana Manggala M.Si mengatakan, penggunaan kondom yang saat ini gencar dilakukan baik oleh KPA Nasional, KPA Provinsi, KPA Kotamadya, Lembaga Swadaya Masyarakat serta para pemangku kepentingan peduli AIDS adalah himbauan utama untuk pencegahan penularan penyakit seksual semata, bukan iklan maupun sponsor.”Hal ini lebih kepada kegiatan untuk menjaga masyarakat agar mereka lebih berhati-hati kepada dirinya dalam perilaku berkehidupan di masyarakat,” katanya.

KPAP DKI Jakarta terus mengkampanyekan penggunaan kondom. Sejak 2 tahun terakhir, KPAP DKI Jakarta telah gencar melakukan PTMS (Program Pencegahan HIV dan AIDS Melalui Transmisi Seks). PTMS adalah upaya pemutusan mata rantai penularan HIV melalui hubungan seks yang beresiko dengan melakukan intervensi struktural. Kegiatan PTMS lain dengan pendekatan yang terintegrasi pada populasi kunci di tempat-tempat hiburan.

Berdasarkan estimasi data The Asian Epidemic Model, jika masyarakat tidak ada perubahan perilaku maka jumlah infeksi HIV di DKI Jakarta pada 2010 diperkirakan mencapai 36 ribu kasus. “Namun setelah gencar dilakukan program PTMS dan PABM (Pemulihan Adiksi Berbasis Masyarakat) serta program penanggulangan yang komperehensif, hingga Juni 2011 secara kumulatif angka ini bisa ditekan hingga 9.784 kasus. Jumlah tersebut dengan rincian 4.957 HIV dan 4.827 AIDS, “ jelas Rohana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar